Skip to content

Apakah Si Kecil Menguasai Medan?

November 11, 2014

Cona lg

A video posted by Ariyanti Sutrisno (@webariys) on

Hai..hai lama tak besua ya, semoga sehat selalu ya di musim hampir hujan ini ya dengan medan yang berbeda-beda tentunya.

Wah-wah kalo menyinggung tentang medan kita akan sangkutpautkan pada si kecil. Sudah seberapa beraninya si kecil menguasai medan?. Pada sebuah penelitian yang saya perhatikan sendiri, ada dua anak A, B, dan C berada pada sebuah arena permainan.

Respon anak A langsung menjemplungkan diri pada permainan yang ada berupa ayunan, perusutan bahakan mandi bola.

Si B masih melihat situasi yang ada dengan memegang dan mulai menaikinya secara perlahan.

Sedangkan respon anak C ia masih menggandol atau memegang baju milik ibu atau bapak atau orang yang terdekat saat itu.

Kali ini kita pindah di lapang yang luas tanpa satu permainan apapun. Respon anak A ia akan berlari-lari bahkan berjungkir balik menciptakan sebuah permainan dengan tujuan mengajak bermain si B dan C.

Respon si B saat melihat lapangan luas ia menunggu respon dari A. Melihat respon ini si B telah terpancing oleh tingkah A hingga mengikuti berlari dan bermain dengan seseorang yang menciptakan kegaduhan dahulu.

Bagaimana dengan respon si C apakah ia melihat situasi terlebih dahulu? atau takut melihat si A dan C?.

Jika memang seperti ini maka si C belum bisa menguasai ranah bermain dengan teman-temannya. Ia akan melalui proses rayuan dan ajakan yang cukup lama dan akan mau setelah kedua temannya sudah kelelahan bermain.

Type anak C ini biasanya lebih menyukai bermain sendiri, asik dengan permainannya sendiri.

Si A sudah jelas-jelas telah menguasai medan saat ia melihat permainan bahkan lapangan kosong sekalipun. Ia bisa memancing temannya dengan permainan yang ia ciptakan entah itu hanya sekedar berlari, melompat-lompat hingga berteriak. karena sifatnya memancing dan mengajak teman untuk bermain.

Sedangkan Si B bukan berarti tidak menguasai medan tapi ia lebih jeli dengan situasi apakah permainan itu berbahaya atau tidak selebihnya ia akan bergabung dalam sebuah permainan atau bermain sendiri.

Nah dari medan inilah kita bisa mengetahui seberapa besar keberanian mereka untuk melangkah.

Sampai titik mana ia bisa menghadapi situasi di hadapannya, jika memang dia telah menguasai medan kita tak perlu panik bahkan mengeluarkan larangan-larangan dengan berteriak akan bahaya dalam sebuah permainan.

Kita cukup melihat dan mengikuti dari belakang. Karena kita yakin bahwa permasalahan kelak yang ia miliki semoga bisa diselesaikannya secara pribadi atau sendiri.

Baca juga:

renang bisa melatih kondis ifisik dan menta lbayi

balita pun butuh pemanasan

frekuensi renang

balitasosialita i

From → Anak, Perkembangan

One Comment

Trackbacks & Pingbacks

  1. Apa Kesukaannya? | olalababies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: