Skip to content

Lulus IMD Itu Bahagianya Tiada Tara

September 24, 2014

 

 

IMD

Tepat pukul 04.00 WIB seorang ibu meminta suaminya untuk mengantarkan ke sebuah klinik bersalin.

Bayinya mulai memberi tanda jika ingin keluar dari rahimnya. Mulasnya perut membuat ia semalaman tidak bisa tidur hingga pagi ini.

Sesampainya di klinik bidan menyatakan bahwa mulut rahimnya menunjukkan bukaan pertama.

Bidan memberikan alternatif mau tetap di klik atau pulang kerumah jika rumahnya memang dekat. Maka Ibu memilih untuk pulang ke rumah.

Pukul 09.00 WIB perut masih terus berputar bak akan datang bulan, mungkin rasanya sepuluh kali lipat dibandingkan datang bulan. Terus bergejolak hingga pukul 12.00 WIB. Di jam itu ia memutuskan kembali untuk berangkat menuju klinik.

Bidan menyampaikan Ibu telah memiliki bukaan ke lima. Rasa mulas makin menjadi-jadi terkadang desisan keluar dari mulut. Pada bukaan ke kelima bidan menyarankan agar tidak buang air di kamar mandi lagi mengingat kontaksi semakin menjadi.

“Bu bidan saya mau IMD setelah bayi saya lahir” pinta seorang ibu hamil dalam kondisi perut kontraksi.

“Baik Bu” jawab suster sambil mempersiapkan beberapa peralatan melahirkan.

Tepat pukul 20.00 WIB bukaan menjadi delapan satu jam beralih kesembilan. corong oksigen mulai ditempelkan di bagian mulut infus mulai menggelantungan. Rupanya Ibu mulai kehabisan tenaga.

Berhenti di bukaan sembilan. kram di perut tak pernah berhenti untuk istirahat mengambil nafas pun rasanya sudah tak mampu akhirnya dokter turun tangan. Memutuskan agar bayi didorong. Proses mengedan pun segera dimulai. Meski sudah melakukan senam hamil tapi tetap saja dalam prakteknya salah, salah ngeden. Beberapa kali Bidan menyatakan “bukan dari tenggorokan, bukan dari tenggorokan salah, salah”.

Ok ibu pejuang ini tetap mengulangi perjuangannya sekali lagi ia mengedan sementara bidan mendorong perutnya dan satu bidan lagi mengambil kepala bayi. Saat itu juga suara bayi mulai terdengar.

“Bu bidan jangan lupa saya mau IMD” ujarnya dengan nada lemah.

“Ibu gak istirahat aja?” pinta sang Bidan.

“Nggak saya mau IMD” kekeh dengan permohonannya.

“Ok saya mulai di atas perut ibu ya”.

Ready. Bayi terasa di bergerak di atas perut nyata tanpa semu. Terus merangkak mencari sumber wangi makanan. Satu jam berlalu ia masih terus berjuang sesekali terdiam untuk beristirahat. Sampai pada satu titik ia mencoba mengangkat kepalanya memang terlihat semu namun nyata. Menjilat-jilat kulit ibu dan sesekali mengisap tangannya.

Luar biasa bangganya Ibu setelah melewati fase IMD Inisiasi Menyusui Dini) bahagia melebihi lulus sarjana dengan IP kumlot. Ibu dan bayi lulus dalam proses IMD. Bayangkan, di usianya beberapa jam ia mencoba mencari makanan demi kelancaran keduanya. Hingga akhirnya ia sampai pada tempat tujuan.

Dicarinya wangi vanilla kesukaannya tepat di puting Ibu. Perlahan, kolostrum milik Ibu di hisapnya untuk kekebalannya. Awal menyusui sungguh mengharukan, melihat bayi merangkak mencari makanan sementara Ibu telah mempersiapkan hidangannya.

Jika memang ada kesempatan kitalah yang harus memperjuangkan menyusui sejak awal. Mintalah pada petugas rumah sakit, klinik bahkan bidan untuk ber-IMD. Karena perjuangan si kecil setelah muncul ada diproses IMD.

Baca juga :

what is imd

5 dari 10 lmkm bagian 1

menyusu itidak menimbulkan rasa sakit

memimdahkan asupan ketubuh bayi

mari jadikan menyusui sebagai gaya hidup sehat

From → Ibu, Menyusui

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: