Skip to content

5 Cara Menyapih

March 10, 2014
IMG01477-20140308-1707

memberikan makanan sehat gizi seimbang,  menggantikan media minum seperti cangkir atau gelas secara perlahan merupan penyapihan terbaik tanpa harus terburu-buru untuk menyapih namun memiliki waktu yang tepat.

Menurut Rawena Bennett seorang perawat, bidan, perawat kesehatan mental yang lebih dari 35 tahu mengabdi pada sebuah instusi kesehatan menyatakan bahwa menyapih merupakan proses memperkenalkan bayi dengan makanan lain berupa susu pendamping selain ASI dan makanan padat setelah anak menyusu selama kurang lebih dua tahun.

Di Amerika Serikat bahkan Inggris kata menyapih suatu gambaran pemberhentian proses menyusui. Banyak definisi yang digunakan dalam kata menyapih yang intinnya merupakan proses memisahkan bayi dan sang Ibu dalam pemberian makanan alami berupa ASI, atau susu ibu. Seperti apa tahapan  menyapih? berikut pilihannya:

1. Anak memimpin penyapih (Membiarkan anak untuk berhenti sendiri tanpa paksaan) 

Jika kita seorang ibu yang full time berada di rumah kita tidak akan terburu-buru untuk memisahkannya si kecil dengan ASI yang kita miliki. Cara ini memang akan membutuhkan waktu cukup lama hingga si anak benar-benar tidak mau lagi untuk menyusu.

Mengurangi menyusui yang di pimpin oleh anak atau membiarkan ia untuk berhenti dengan sendirinya akan membutuhkan waktu 2,5 tahun hingga 7 tahun dengan rata-rata usia 4,5 tahun. Secara perlahan kita juga harus menggunakan strategi penyapihan bertahap agar perlahan si kecil berkurang dalam kegiatan menyusu. Dengan memberikan makan gizi seimbang dan perut kenyang anak akan berhenti menyusu dengan sendirinya.

2. Ibu Memimpin penyapihan (Ibu yang mengakhiri proses menyusui terlebih dahulu) 

Meski anak terkadang rewel dan tidak mau jika harus berhenti menyusu secara tegas ibu yang memulainya. Di awal proses penyapihan saat anak berusia 1 hingga 2 tahun ia akan terlihat kaget dan terus mengiba minta ASI secara langsung, rewel, merengek hingga menangis terus dialaminya saat ini kita harus tegar. Dalam kondisi ini Ibu benar-benar tidak memberikan ASI pada si kecil.

Memberikan minuman pengganti ASI secara perlahan dan terus menerus, karena yang memutuskan penyusui kita maka kita harus bisa bersabar dan terus memberinya peraliahan. Pada proses ini ibu cukup tegas benar-benar tidak memberikan ASI pada si kecil atau memberikan rasa pahit di sekitar puting agar anak tidak mau menyusui.

Namun banyak ibu yang mengakhiri proses menyapih mendadak ini saat bayi berusia 6 bulan bahkan sebelumnya usia tersebut, sangat disayangkan jika usia bayi masih berusia di bawah 6 bulan. Jika memang kita yang akan mengakhiri, maka kita perlu berkonsultasi dengan bidan atau pakar laktasi agar memenuhi syarat gizi.

3. Penyapihan Parsial

Menyapih parsial berarti bayi menerima susu formula di samping menyusui. Mungkin ini banyak terjadi jika sang ibu tidak yakin bahwa ASI yang dimilikinya tidak banyak. Bisa pula terjadi jika pihak rumah sakit memberikan susu formula pada bayi dalam kondisi tertentu.

Mengkombinasikan antara ASI dan susu formula. Bagi ibu yang baru saja melahirkan kemudian menggunakan metode parsial sebaiknya lebih memperhatikan bayinya sebab bayi bisa bingung puting. Jika sudah begini maka bayi bisa menolak untuk menyusu pada kita.

4.  penyapihan bertahap

Penyapihan beratap mungkin juga banyak digunakan oleh beberapa dari kita setelah anak berusia mendekati 2 tahun kita bisa memulainya untuk memberikan susu botol atau cangkir jika ia masih menginginkan ASI.

Saat bertahap ini kita tidak menolak jika sekecil menginginkan menyusu namun tidak menawarkan menyusui pula pada si kecil. Menunda menyusui dan membiasakan anak  untuk minum dengan cangkir berisi air putih atau susu. Apa  yang masih ia ingikan maka berikan namun kita juga mulai membisakan minum dengan menggunakan cankir.

Secara perlahan kita merubah rutinitas si kecil dari terbiasa menempel dengan susu ibu mulai beralih ke media penghubung seperti cangkir atau gelas.

Semakin lambat penyapihan terjadi semakin banyak waktu ini menyediakan bagi anak Anda untuk terbiasa dengan perubahan . Ada penurunan risiko komplikasi payudara saat menyapih terjadi secara bertahap dibandingkan dengan penyapihan mendadak.

5.  Penyapihan Sudden/ mendadak

Mendadak berhenti menyusui biasa terjadi jika ibu sakit atau tiba-tiba berhenti karena ibu tidak merasa sehat. Hal ini bisa menyebabkan anak rewel dan payudara bisa membengkak bahkan bisa terjadi penyumbatan seperti mastitis.

So, mungin kita bisa memilih atau bahkan telah mengalami penyapihan ini, lebih condong ke nomer berapakah kita.

Sumber :

http://parenting.kidspot.com.au/5-ways-to-wean-your-baby-from-breastfeeding/#.Uxa9cj-Swuc

Baca juga:

https://olalababies.wordpress.com/2013/10/18/baby-blues-sindrome/

https://olalababies.wordpress.com/2013/09/16/baby-blues-karena-asi/

https://olalababies.wordpress.com/2013/09/13/menyusui-diantara-niat-pesimis-dan-malas/

https://olalababies.wordpress.com/2013/09/03/untung-praktis-yang-mana/

https://olalababies.wordpress.com/2013/02/13/7-tips-sukses-menyusui/

From → Ibu, Menyusui

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: